BHARATAYUDHA

Bharatayudha sebuah kisah pertempuran hidup-mati antara kebaikan dan angkara murka. Bermula dari sebuah Negara yang diperebutkan yaitu Astina, Pandawa sebagai lambang dari kebaikan yang ingin kembali mengambil hak-nya yang telah ‘dititipkan’ kepada Kurawa, lambang dari angkara murka. Mulanya, Negara Astina adalah kepunyaan Prabu Pandu Dewanata, yakni tak lain ayah dari para Pandawa. Karena Pandu meninggal dalam masa pemerintahannya, dia menitipkan Negara Astina kepada kakak kandungnya yang buta yaitu Destrarata.

Destrarata berjanji akan mengembalikan Negara AStina kepada para Pandawa ketika mereka mulai dewasa nanti. Tapi apa daya suratan takdir sudah menentukan bahwa anak dari Destrarata yang serakah menginginkan Astina dan menjadikan Astina menjadikan hak miliknya. Duryudana putra sulung Destrarata akan mengancam bunuh diri kalau keinginannya tidak di sanggupi. Akhirnya Duryudana-lah yang menggantikan ayahnya menjadi Raja Astina. Pandawa saat itu masih belum cukup umur hanya menerima dan berharap kakaknya itu mau menyerahkan Negara Astinya yang dititipkan ayahnya kepada para Pandawa.Ternyata harapan para Pandawa tidak terwujud, dengan hasutan Patih Sengkuni yang licik, mempengaruhi Kurawa untuk mempertahankan Astina dengan berbagai cara. Kurawa berani mencelakai saudaranya sendiri hingga berani membunuh Pandawa. Pandawa yang selalu di dampingi Sri Batara Kresna sang titisan Wisnu mendapat keselamatan dari berbagai rencana licik Kurawa. Kehidupan para Pandawa sebagai pemilik sah Astina sangat hina, dibuang di hutan selama 13 tahun tapi semua itu mereka terima dengan lapang dada.Hingga pada saatnya, Sri Kresna diutus menjadi duta Pandawa gagal juga untuk meminta hak Pandawa atas Astina. Peperangan-pun tak bisa dihindari. Satu demi satu punggawa Pandawa dan Astina menemuialnya. Gatutkaca, Adipati Karna, Bhisma, Sengkuni, Durna, Abimanyu dan masih banyak lagi. Hingga pada akhirnya Pandawa sebagai lambang kebaikan memenangi pertempuran ini, dan dinobatkannya Parikesit, putra Abimanyu juga cucunya Arjuna sebagai Raja Astina yang bergelar Prabu Kresnadwipayana. Kisah ini mengajarkan bagaimana kebenaran mesti dijunjung tinggi, tentang martabat dan harga diri harus dihormati.